Loko Tur di Kabupaten BloraLoko tur di Kabupaten Blora merupakan paket perjalanan wisata di hutan jati wilayah KPH Cepu Kabupaten Blora yang menggunakan transportasi berupa rangkaian kereta api yang ditarik lokomotif tua buatan Berliner Maschinenbaun Jerman Tahun 1928. Perjalanan dengan kereta kuno tersebut dimulai dari Kantor Perhutani Jalan Sorogo KPH Cepu, sekitar 35 Km ke arah tenggara Kota Blora. Perjalanan tersebut menempuh jarak 60 Km dengan kecepatan maksimum 20 Km per jam, melintasi hutan jati wilayah BKph Ledok, Kendilan, Pasar Sore, Blungun, Nglobo, Cabak, dan Nglebur. Lokasi yang ditempuh cukup menarik karena berada di ketinggian 25 - 30 m di atas permukaan laut, suhu udara 22 - 34 derajat celcius, dengan curah hujan rata-rata 1.670 mm per tahun Paket wisata loko tur di Kabupaten Blora ini selain menyajikan perjalanan yang dilatarbelakangi keindahan hutan jati, juga disajikan berbagai macam hiburan kesenian daerah dan atraksi antara lain : kesenian tayub, penanaman jati, tebangan, seradan serta kunjungan ke museum jati dan Pusbanghut (Pusat Pengembangan Bio Teknologi Hutan).
Kereta Api dan Loko Tur di Kabupaten SemarangUntuk menunjang kepariwisataan di Daerah Ambarawa khususnya Jawa Tengah umumnya, maka PJKA Eksplotasi Jawa Tengah sejak tahun 1975 memberi kesempatan kepada para turis secara rombongan untuk menyewa paket tur naik kereta api bergigi antara Ambarawa Bedono pulang pergi. Adapun daya tarik yang ditawarkan kepada kepada wisatawan dari pelayanan loko tur di Kabupaten Semarang adalah:
Para wisatawan diajak memasui stasiun yang sedemikian rupa disamakan dengan aslinya yaitu 126 tahun yang lalu dengan bangunan yang masih kokoh, lantai, ornamen, dan aksesoris model lama yang terpelihara.
Sebelum tur dimulai diperlukan persiapan yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan 126 tahun yang lalu yaitu dalam hal mempersiapkan lokomotif yang menggunakan tenaga uap diperlukan waktu selama 3 jam untuk memanaskan air dengan bahan bakar kayu agar menjadi uap untuk menggerakkan mesin kereta. ada baiknya sebelum melakukan tur ini wisatawan melakukan reservasi 3 jam sebelum tur dimulai. Reservasi dilakukan melalui telepon Museum Kereta Ambarawa (0298)91035
Dengan kapasitas penumpang 100 orang, wisatawan akan menikmati perjalanan dari Ambarawa Jambu Bedono PP sejauh 9 Km 489 m selama 2 jam yang sangat mempesona, yaitu gunung tinggi menjulang di depan dan hamparan Rawa Pening di belakang merupakan pemandangan yang kontras. Selama kereta api Railway Mountain Tours juga ada lori wisata untuk anak-anak. Dimulai dari stasiun Ambarawa sampai di batas rel yang bergerigi dengan waktu tempuh 30 menit.
Para wisatawan diajak memasui stasiun yang sedemikian rupa disamakan dengan aslinya yaitu 126 tahun yang lalu dengan bangunan yang masih kokoh, lantai, ornamen, dan aksesoris model lama yang terpelihara.
Sebelum tur dimulai diperlukan persiapan yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan 126 tahun yang lalu yaitu dalam hal mempersiapkan lokomotif yang menggunakan tenaga uap diperlukan waktu selama 3 jam untuk memanaskan air dengan bahan bakar kayu agar menjadi uap untuk menggerakkan mesin kereta. ada baiknya sebelum melakukan tur ini wisatawan melakukan reservasi 3 jam sebelum tur dimulai. Reservasi dilakukan melalui telepon Museum Kereta Ambarawa (0298)91035
Dengan kapasitas penumpang 100 orang, wisatawan akan menikmati perjalanan dari Ambarawa Jambu Bedono PP sejauh 9 Km 489 m selama 2 jam yang sangat mempesona, yaitu gunung tinggi menjulang di depan dan hamparan Rawa Pening di belakang merupakan pemandangan yang kontras. Selama kereta api Railway Mountain Tours juga ada lori wisata untuk anak-anak. Dimulai dari stasiun Ambarawa sampai di batas rel yang bergerigi dengan waktu tempuh 30 menit.
WISATA KERETA TUA
Ungkapan mengatakan, jangan pernah melupakan sejarah. Kalimat itu tepat saat berwisata ke Ambarawa. Kota kecil yang terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ini, memang menawarkan paket wisata kereta api uap bergigi dengan pemandangan khas pedesaan.Sambangi saja Museum Kereta Api Ambarawa, atau dahulu dikenal sebagai Stasiun Willem I. Gedung bekas peninggalan kantor Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij atau Perusahaan Kereta Api Hindia-Belanda kala itu, menyimpan sekitar 24 lokomotif kuno buatan tahun 1891-1966. Kereta besi itu menjadi koleksi setelah hampir satu decade bertugas menjelajahi Pulau Jawa. Sebut saja seperti lokomotif CC50 buatan Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik Winterthur, Swiss dan Werkspoor, Belanda. Loko ini dijuluki Bergkoningin alias Ratu Pegunungan. Julukan dalam bahasa Belanda ini didapat CC 50 karena lokomotif dengan tahun produksi 1927 itu, mampu melewati jalur pegunungan dengan tikungan-tikungan tajam.
Ada juga lokomotif kebanggaan perusahaan kereta api milik pemerintah Kolonial Belanda, Staatsspoorwegen (SS), C28. Loko buatan Henschel, Jerman, ini tercatat sebagai loko tercepat di seluruh dunia untuk ukuran rel sempit (1.067 mm) pada era 1920-an. Kecepatannya pada masa itu bisa mencapai 120 kilometer per jam.Masih ada sejumlah lokomotif kuno lainnya, seperti loko F10 buatan Hanomag, Jerman, dengan enam pasang roda penggerak. Konon, keberadaan loko ini tergolong langka dan jarang ditemukan di belahan dunia lainnya. Lokomotif lainnya C54, loko kebanggaan Semarang Cheribon Stoomtram Maatscappij (SCS); dan loko C51, loko kebanggaan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS). Keseluruhan koleksi itu bebas untuk diabadikan gambarnya oleh pengunjung
While working railways all over the world are junking their steam locomotives, Trangkil sugar mill in northern Central Java not only keeps its fleet of small narrow gauge (750 mm) locomotives going but would probably gratefully accept any more if it could find them at the right price. The Indonesian government has traditionally maintained an inflated internal price for sugar to protect the smaller less efficient (nationalised) mills which have provided rural employment, and this has made well-run privately owned mills like this quite profitable, although it was as badly affected by the 1999 problems.Compared to most mills in Java, Trangkil has a 'modern' fleet of steam locomotives, none of them more than 70 years old: Any one of them would be a treasure but for most British enthusiasts, #4 is the great draw. Three years after main line steam finished, this small Hunslet 'saddle tank' loco, built to a Kerr Stuart design of 50 years earlier, was arguably England's last working locomotive built, if later replicas and locos for tourist purposes are discounted.
Unlike many mills which do not let their locos stray far from home, Trangkil's fleet is intensively used on the estate lines which lie all around the mill. Early each morning, dozens of empty cane cars are distributed to the fields where cutting is taking place. The locos then return to the mill at midday for servicing and a shift change. By 13.00 they are on their way back to the fields where the cars will be full or nearly full.The mill's main line lies to the south of the mill, alongside the main road where the trains rub shoulders with buses and trucks hurtling about their business, enthusiasts after their photographs need to keep their wits about them to avoid being mowed down. However, along the branches and the lines to the north of the mill, life is quieter and it possible to enjoy the classic sight of a loaded cane train slogging through small villages, paddy fields and, of course, sugar cane. Often, there is sufficient traffic to require some of the locos to make a second trip before sunset, but this is one mill where there are very few night trains.
The sugar mill is 12km north of Pati on the road north to Tayu. There are adequate hotels in Pati (try the Hotel Pati). Enthusiasts are always very welcome especially those wanting to ride the locos armed with supplies of cigarettes or photos for the crew.
Waas upami niggal tilas jalan kareta, sok hoyong balik deu ka zaman baheula.Spoorbrug tussen Soreang en Tjiwidej ten zuidwesten van Bandoeng (KITLV.NL)
Kereta api rute Bandung-Ciwidey merupakan jasa angkutan masal pertama yang peranah ada di kawasan Bandung Selatan, berfungsi untuk mengangkut barang-barang komiditi perkebunan. Jalur ini dimulai dari Stasion Cikudapteuh, Pasar Kordon Buahbatu, Pamengpeuk, Banjaran, Soreang dan berakhir di Ciwidey. Menurut Kuncen Bandung, Bapak Haryoto Kunto dalam buku nya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Penulis : Haryoto Kunto, PT. Granesia. Cetakan Ke. I April 1984, Cetakan Ke II Mei 1984 dan Cetakan Ke III April 1985) jalur ini dibangun 2 tahap, tahun 1918 Bandung-Kopo dan diteruskan ke Ciwidey pada tahun 1921 oleh Perusahaan Kereta Api Negara (”Staats Spoorwegen”/ “SS”)
Kereta trem melintas dikawasan Glodok
Bagi seorang railfans, setiap naik kereta api adalah sebuah pengalaman yang menarik, apalagi jika masih dapat merasakan rangkaian kereta api uap seperti di masa lalu.Minggu lalu saya berkesempatan untuk mengikuti perjalanan ujicoba rangkaian kereta api uap milik Perhutani di Cepu, Jawa Tengah. Sebuah kesempatan langka yang tidak mungkin untuk disia-siakan begitu saja, apa lagi perjalanan kereta api ini sempat terhenti akibat salah satu jembatan yang berada di dalam rutenya mengalamai kerusakan terkena amukan banjir besar.Untuk mencapai lokasi tempat keberangkatan kereta api uap di Perhutani ini tidaklah sulit, Cepu bukanlah sebuah kota yang besar, menurutku masih lebih luas wilayah Kebayoran Baru daripada kota Cepu. Dari Stasion kereta api Cepu dapat ditempuh menggunakan becak seharga 7500 Rupiah saja, atau jika ingin menikmati suasana sepu yang tidak sepadat Jakarta, dapat berjalan kaki sejauh lebih kurang 2.5 KM melintasi kota.
Setibanya di dipo lokomotive milik Perhutani, sudah menunggu sebuah lokomotive uap buatan Berliner Maschinenbau tahun 1928. Pabrik lokomotive di Jerman ini didirikan pada 3 Oktober 1852 oleh Louis Victor Robert Schwartzkopff di Berlin.Loko ini deberi nama Tudjubelas, sebuah nama yang unik. Di sana setidaknya ada dua lokomotive sejenis dengan nama Bahagia dan Agustus.
Pagi ini adalah perjalanan perdana melintasi perkebunan dan hutan jati milik Perhutani setelah perbaikan jembatan dilakukan. Perjalanan sejauh lebih kurang 22 KM melalui daerah perkampungan, ladang, hutan dan perbukitan yang menyuguhkan suasan asri penuh dengan keindahan.Rel kereta api yang selama dua tahun terakhir tidak lagi pernah dilewati, telah diperbaiki dengan cara mengganti bantalan kayu yang lapuk dengan potongan-potongan kayu jati yang lebih kokoh. Di beberapa tempat yang ambles telah diberi batu kricak (balast) untuk mengeraskan tanah yang melunak.Hujan yang turun di tengah perjalanan membuat suasana menjadi semakin seru, para crew yang bekerja harus berbasah-basah terkena hujan, sementara di kereta penumpang kami dapat duduk dengan nyaman sambil melihat pemandangan di luar yang basah.
Di tengah perjalanan, rangkaian melintas di atas jalan raya Cepo - Blora, kami menyempatkan untuk berhenti sejenak untuk memotret kereta api yang melintas di atas jalan raya, lokasi ini dikenal dengan nama Buk Brosot (buk dapat berarti jembatan dalam bahasa Jawa). Beberapa orang pengemudi kendaraan bermotor di bawahnya bahkan menyempatkan untuk berhenti, karena mendapatkan peristiwa yang cukup langka ini.Kira-kira dua jam perjalanan dari Dipo Lokomotive Perhutani, kami akhirnya tiba di tempat tujuan, yaitu Gubuk Payung. Sebuah tempat yang menurutku sangat indah karena berada di tengah-tengah rimbunnya hutan jati yang berumur ratusan tahun. Saat kami tiba, waktu menunjukan pukul 12 siang, tetapi di Gubuk Payung, suasan sudah seperti Maghrib, karena cahaya matahari tertahan oleh rimbunnya daun-daun jati, indah sekali.Sebenarnya masih ada jalur kereta api lagi setelah Gubuk Payung, tetapi saat ini semua telah hilang, orang-orang yang tidak bertanggung jawab telah mencuri sebagian besar rel di sana, padahal jalur selanjutnya lebih menantang, karena benar-benar di dalam hutan lebat.
Setelah istirahat makan siang, saya melanjutkan memotret dan bersiap-siap untuk kembali ke kota Cepu. Rangkaian kereta api sudah diputar dan siap membawa kami kembali.Perjalanan pulang terasa begitu cepat karena saya sudah mulai lelah dan sempat tertidur beberapa saat. Di tengah jalan, banyak anak-anak kecil melambai-lambaikan tangan seolah bahagia karena melihat sebuah peristiwa besar, beberapa bahkan berlarian mengejar rangkaian kereta api.Perjalanan saya kali ini memang sangat luar biasa, pasti saya akan kembali lagi ke Cepu untuk dapat menikmati naik kereta api uap legendaris ini. Tidak salah mereka membuat slogan “It is only four hours, but the memory of your teak plantation tour will last forever“.
This entry was posted
on Jumat, September 05, 2008
and is filed under
train
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.


1 komentar